Sungai Kalimas dan Denyut Kehidupan Warga Surabaya di Masa Kolonial
Sungai Kalimas mengalir tenang membelah jantung kota lama Surabaya. Sejak abad ke-15, aliran air ini telah menjadi urat nadi perdagangan, transportasi, dan kehidupan sosial masyarakat pesisir. Di masa kolonial, perannya tumbuh semakin vital ketika Belanda menjadikan Surabaya sebagai salah satu pelabuhan terpenting di Nusantara.
Pada era kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga masa pemerintahan Hindia Belanda, sungai sepanjang sekitar dua puluh kilometer ini tidak pernah sepi dari aktivitas. Perahu-perahu tradisional hilir mudik mengangkut rempah, gula, tekstil, kayu, ikan, dan berbagai barang dagangan lain. Warga lokal berbaur dengan saudagar Tionghoa, Arab, dan Eropa, semuanya berpacu dalam denyut ekonomi yang menjadikan Kalimas sebagai simbol kehidupan kota.
Asal-Usul Sungai Kalimas dalam Catatan Historis
Kalimas sudah dikenal jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Prasasti dan catatan kerajaan Majapahit menyebut wilayah ini sebagai bagian dari jaringan pelabuhan pesisir utara Jawa. Nama sungainya sendiri berasal dari kata "kali" yang berarti sungai dan "mas" yang merujuk pada warna keruh keemasan airnya ketika terkena cahaya matahari senja.
Ketika Surabaya jatuh ke tangan VOC pada tahun 1743 setelah kekalahan Pangeran Cakraningrat, sungai ini langsung mendapat perhatian serius. Belanda melihat potensi Kalimas sebagai jalur logistik untuk mengirimkan hasil bumi dari pedalaman Jawa ke pasar internasional. Pembangunan kanal-kanal kecil, pengerukan alur sungai, dan pendirian gudang-gudang di tepian menjadi agenda utama pada abad ke-18 dan ke-19.
Kalimas Sebagai Jalur Perdagangan Utama
Sungai Kalimas memegang peran strategis sebagai urat nadi ekonomi pada paruh kedua abad ke-19. Pelabuhan Tanjung Perak yang lebih modern baru dikembangkan pada awal abad ke-20, sehingga sepanjang era kolonial sebagian besar aktivitas bongkar muat berlangsung di dermaga-dermaga yang tersebar di sepanjang Kalimas.
Kapal-kapal kecil dan perahu tradisional bersandar di tiga titik sentral: Dermaga Tanjung, kawasan Jembatan Merah, hingga sekitar Kembang Jepun. Hasil bumi seperti kopi, tebu, dan tembakau dari Madura serta pedalaman Jawa Timur dikirim melalui sungai ini. Pedagang Tionghoa yang telah lama bermukim di sekitar Kembang Jepun berperan penting sebagai perantara perdagangan antara produsen lokal dan pembeli Eropa.
Suasana dermaga Kalimas pada masa itu digambarkan oleh banyak pelancong Eropa sebagai pemandangan yang sangat hidup. Bau rempah bercampur dengan aroma ikan asin, teriakan buruh pelabuhan, dan bunyi genta kapal yang bersandar. Aktivitas ini tidak pernah berhenti, baik pagi, siang, maupun malam hari, menjadikan Kalimas benar-benar sungai yang tak pernah tidur.
Aktivitas Nelayan, Penambang Pasir, dan Pencari Ikan
Tidak semua warga yang menggantungkan hidup di Kalimas adalah pedagang besar. Sebagian besar masyarakat kelas bawah adalah nelayan, penambang pasir, dan pembuat perahu. Mereka tinggal di kampung-kampung kecil di sepanjang bantaran sungai, seperti kampung di sekitar Nyamplungan, Ketandan, dan sekitarnya.
Para nelayan tradisional menangkap ikan dengan jaring sederhana dan perahu kecil bermesin rendah. Hasil tangkapan mereka tidak hanya dijual di pasar lokal, tetapi juga diantar ke kapal-kapal Eropa yang singgah di dermaga. Ikan segar menjadi barang berharga karena bisa disimpan sebagai bekal pelayaran panjang.
Penambang pasir bekerja sejak subuh untuk mengambil pasir dari dasar sungai yang kemudian digunakan sebagai bahan bangunan. Pekerjaan ini berat dan berbahaya, namun menjadi sumber penghidupan penting bagi banyak keluarga. Anak-anak pun ikut membantu dengan cara mengangkut pasir dalam keranjang anyaman bambu ke tempat penampungan di tepi sungai.
Kehidupan Kampung-Kampung di Tepi Kalimas
Kehidupan kampung di sepanjang Kalimas sangat khas. Rumah-rumah dibangun dengan struktur kayu dan atap genteng, berdiri rapat-rapat menghadap ke sungai. Jalan setapak di antara rumah menjadi tempat anak-anak bermain sekaligus jalur penghubung antar kampung. Aktivitas warga berlangsung di ruang terbuka bersama, tempat perempuan menumbuk padi, laki-laki memperbaiki jaring, dan tetangga berbincang santai di teras rumah.
Agama dan tradisi menjadi perekat sosial yang sangat kuat. Masjid dan klenteng berdiri berdampingan di beberapa titik, mencerminkan keragaman etnis yang sudah berlangsung lama. Warga Tionghoa yang bermukim di sekitar Kembang Jepun membangun klenteng besar yang masih berdiri hingga sekarang. Sementara itu, komunitas Jawa dan Madura menjalankan tradisi slametan dan selamatan desa untuk menjaga harmoni sosial.
Suara azan, lonceng klenteng, dan kidung dari kampung-kampung kecil membentuk latar belakang akustik khas Kalimas pada masa itu. Tidak jarang terdengar kisah-kisah legenda yang diceritakan turun-temurun, termasuk cerita tentang Nyi Ageng Maloka, tokoh perempuan yang identik dengan sejarah awal Surabaya dan sungai ini.
Warisan Arsitektur dan Bangunan Kolonial di Sepanjang Kalimas
Pengaruh kolonial masih dapat dilihat dari bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang Kalimas. Jembatan Merah yang menjadi saksi bisu pertempuran tahun 1845 kini menjadi ikon kota. Gedung-gedung gudang tua dengan arsitektur Eropa masih berdiri di beberapa titik, meskipun fungsinya telah berubah seiring waktu.
Bangunan Bank Mandiri di Jalan Jembatan Merah, bekas De Javasche Bank, dirancang oleh arsitek Belanda dan pernah menjadi pusat transaksi keuangan pada masa Hindia Belanda. Kawasan Kembang Jepun dengan deretan toko-toko kuno juga menjadi bagian dari warisan sejarah tersebut, tempat para pedagang Tionghoa membangun kerajaan ekonomi mereka sejak ratusan tahun lalu.
Hingga sekarang, berjalan-jalan di sepanjang Kalimas pada pagi hari memberi gambaran betapa kayanya sejarah tempat ini. Dermaga-dermaga tua, jembatan bersejarah, serta tinggalan kampung lama adalah bukti hidup bahwa sungai ini bukan sekadar aliran air, melainkan memori kolektif sebuah kota.
Menyusuri Kalimas pada pagi buta masih bisa menjadi cara sederhana untuk menyelami lapisan waktu yang tertinggal di Surabaya. Melihat perahu nelayan bersandar di dermaga, mencium bau kayu lapuk dari gudang tua, dan mendengarkan deru kota lama yang masih hidup adalah pengingat bahwa setiap jengkal sungai menyimpan cerita yang layak terus dikenali dan dijaga.