Jejak Cengkih dan Rempah dalam Sejarah Surabaya
Surabaya dikenal sebagai kota pelabuhan yang tumbuh dari pertemuan sungai, pesisir, dan jalur perdagangan antarpulau. Jauh sebelum menjadi pusat industri, kawasan ini telah berperan sebagai tempat bongkar muat berbagai komoditas, termasuk hasil bumi yang memiliki nilai tinggi seperti cengkih, pala, lada, kayu manis, dan kapulaga.
Cengkih tidak selalu ditanam dalam skala besar di pusat Kota Surabaya. Jejaknya lebih kuat terlihat dalam jaringan perdagangan yang menghubungkan Maluku, pesisir Jawa, Madura, dan daerah pedalaman Jawa Timur. Karena itu, sejarah rempah di Surabaya berkaitan erat dengan aktivitas pelabuhan, gudang, pasar, serta para pedagang yang mengelola pergerakan komoditas.
Pada masa lalu, aroma rempah bukan sekadar bagian dari masakan. Cengkih dan pala dipakai sebagai bahan pengawet, obat tradisional, campuran minuman, serta komoditas ekspor. Nilainya yang tinggi membuat rempah menjadi bagian penting dalam persaingan dagang dan perubahan politik di kepulauan Indonesia.
Membaca sejarah perkebunan cengkih dan rempah di wilayah Surabaya berarti menelusuri hubungan antara kota dan daerah penghasil. Dari dermaga di sekitar Kalimas hingga pasar di kawasan kota lama, berbagai lapisan masyarakat ikut membentuk cerita panjang tentang rempah yang melintasi lautan dan daratan.
Surabaya sebagai simpul perdagangan rempah
Letak Surabaya di muara Sungai Kalimas menjadikannya titik strategis bagi kapal dan perahu pengangkut barang. Jalur sungai tersebut menghubungkan pelabuhan dengan kawasan pedalaman, sementara laut membuka akses menuju Madura, Bali, Sulawesi, Maluku, dan pelabuhan lain di sepanjang pantai utara Jawa.
Cengkih dari Kepulauan Maluku umumnya tiba melalui jaringan pelayaran antarpulau. Sesampainya di Surabaya, komoditas itu dapat disimpan sementara, diperdagangkan kembali, atau dikirim menuju kota-kota lain. Pala dan fuli dari Banda, lada dari berbagai wilayah Nusantara, serta hasil bumi dari Jawa juga masuk dalam arus perdagangan yang sama.
Dari kebun penghasil menuju gudang kota
Wilayah Surabaya sendiri memiliki keterbatasan lahan untuk perkebunan rempah berskala luas karena sejak lama berkembang sebagai kawasan pelabuhan dan permukiman. Daerah penghasil yang memasok kebutuhan kota berada di kawasan yang lebih luas, termasuk pedalaman Jawa Timur, Madura, dan wilayah timur Nusantara.
Dalam sistem dagang kolonial, gudang menjadi penghubung penting antara petani, pedagang perantara, dan eksportir. Rempah yang masuk harus ditimbang, diperiksa kualitasnya, lalu dikemas sebelum dikirim kembali. Catatan tentang jaringan perdagangan rempah membantu menunjukkan bahwa nilai cengkih terbentuk melalui perjalanan panjang, bukan hanya dari proses penanaman.
Kawasan sekitar Kalimas, Pabean, Kembang Jepun, dan Jembatan Merah berkembang sebagai ruang ekonomi yang mempertemukan berbagai kelompok. Pedagang Tionghoa, Arab, Madura, Jawa, serta pendatang dari wilayah lain berperan dalam distribusi bahan pangan dan komoditas perdagangan. Interaksi itu turut membentuk karakter multikultural Surabaya.
Peran kolonial dalam pengendalian cengkih
Pada masa VOC, cengkih termasuk komoditas yang diawasi dengan ketat karena harga dan permintaannya tinggi di pasar Eropa. Penguasa kolonial berusaha mengendalikan sumber produksi, jalur pelayaran, serta distribusi rempah. Kebijakan monopoli membuat perdagangan cengkih tidak sepenuhnya berada di tangan masyarakat setempat.
Surabaya memperoleh posisi penting karena pelabuhannya mendukung pengiriman barang ke Batavia, Semarang, dan pusat perdagangan lainnya. Kapal-kapal yang berlabuh membawa beras, kain, garam, dan kebutuhan sehari-hari, kemudian kembali mengangkut hasil bumi. Dalam arus tersebut, rempah menjadi salah satu komoditas yang memperkuat peranan ekonomi kota.
Pengendalian kolonial juga memberi dampak bagi petani di daerah asal. Harga dapat ditentukan oleh pedagang atau penguasa, sementara akses untuk menjual langsung ke pasar luar dibatasi. Sejarah cengkih karena itu tidak hanya berbicara tentang kemakmuran pelabuhan, tetapi juga tentang ketimpangan dalam rantai perdagangan.
Rempah dalam kehidupan masyarakat Surabaya
Di luar perdagangan besar, cengkih hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahan ini digunakan dalam racikan jamu, wedang, kue tradisional, campuran tembakau, dan berbagai ramuan rumah tangga. Aroma cengkih juga kerap muncul dalam masakan berbumbu kuat yang berkembang di lingkungan pesisir.
Pasar-pasar lama menjadi tempat bertemunya rempah dalam jumlah besar dan kecil. Pedagang menjual cengkih kering, lada, ketumbar, jintan, kayu manis, serta bahan dapur lain sesuai kebutuhan pembeli. Tradisi kuliner Surabaya yang kaya rasa memperlihatkan bagaimana komoditas perdagangan global dapat beradaptasi menjadi bagian dari kebiasaan lokal.
Warung, rumah makan, dan dapur keluarga ikut menjaga keberadaan rempah melalui resep yang diwariskan. Beberapa hidangan berkuah, olahan daging, minuman hangat, dan sajian peranakan memakai rempah sebagai penentu aroma. Dengan begitu, sejarah rempah dapat ditelusuri bukan hanya melalui arsip pelabuhan, tetapi juga melalui cita rasa.
Jejak sejarah yang masih dapat ditelusuri
Bangunan tua di sekitar kota lama, jalur Kalimas, kawasan Ampel, dan lingkungan perdagangan di utara Surabaya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah rempah. Tidak semua lokasi masih memiliki bentuk asli, tetapi pola jalan, nama kampung, pasar, dan tradisi niaga menyimpan petunjuk mengenai aktivitas masa lalu.
Penelusuran tersebut perlu memadukan arsip kolonial, cerita keluarga pedagang, dokumentasi bangunan, serta ingatan para pelaku kuliner. Portal komunitas seperti tentang Cerita Surabaya dapat membantu mempertemukan kisah lokal dengan pembaca yang ingin mengenal sejarah kota melalui pengalaman warganya.
Pelestarian cerita rempah juga penting bagi generasi muda. Cengkih tidak cukup dipahami sebagai bahan rokok atau bumbu dapur, melainkan sebagai bagian dari sejarah ekonomi, migrasi, kolonialisme, dan pertumbuhan kota. Narasi itu dapat dikembangkan melalui tur sejarah, pameran foto, dokumentasi pasar lama, atau cerita kuliner berbasis kampung.
Sejarah perkebunan cengkih dan rempah di wilayah Surabaya pada akhirnya merupakan sejarah hubungan. Kota ini menjadi ruang pertemuan antara kebun di daerah penghasil, pelabuhan antarpulau, gudang perdagangan, pasar, dan dapur masyarakat. Langkah paling konkret adalah mengunjungi kawasan Kalimas dan kota lama sambil mencatat jejak pasar, bangunan, serta kuliner rempah yang masih bertahan.