Sejarah Jalan Tunjungan Dari Zaman Belanda Hingga Cardiac Zone
Jalan Tunjungan adalah salah satu ruang kota paling ikonik di Surabaya. Koridor ini menyimpan lapisan sejarah yang panjang, mulai dari perkembangan kota kolonial, pusat perdagangan modern, peristiwa perjuangan kemerdekaan, hingga kebangkitan wisata heritage dan kuliner malam.
Nama Tunjungan tidak hanya merujuk pada sebuah ruas jalan, tetapi juga pada suasana kota yang terus berubah. Bangunan lama, toko, hotel, trotoar, seniman jalanan, dan kedai makanan menjadikannya ruang pertemuan antara masa lalu dan gaya hidup masa kini.
Bagi warga Surabaya, kawasan ini sering dianggap sebagai jantung kota. Sebutan tersebut semakin relevan ketika Jalan Tunjungan ditata sebagai ruang pedestrian dan ruang publik yang hidup, atau yang kerap dimaknai sebagai Cardiac Zone—zona yang membuat denyut ekonomi, budaya, dan aktivitas sosial kota terasa lebih kuat.
Awal Pertumbuhan Di Era Kolonial
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Surabaya berkembang sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan penting di Jawa Timur. Pertumbuhan penduduk, kegiatan bisnis, serta pembangunan kawasan permukiman mendorong perluasan kota ke arah selatan dan barat dari pusat lama di sekitar Jembatan Merah.
Jalan Tunjungan kemudian tumbuh sebagai bagian dari jalur penghubung kawasan perdagangan, perkantoran, dan permukiman elite. Infrastruktur jalan yang lebih baik membuat kawasan ini mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. Toko, penginapan, restoran, dan tempat hiburan mulai bermunculan mengikuti meningkatnya aktivitas ekonomi.
Pada awal abad ke-20, Tunjungan mulai memperoleh citra sebagai kawasan modern. Arsitektur bangunan yang menghadap jalan menunjukkan pengaruh Eropa, sementara kegiatan jual beli di dalamnya melayani masyarakat dari berbagai latar belakang. Sejak saat itu, Tunjungan menjadi salah satu simbol perubahan Surabaya dari kota pelabuhan menjadi kota metropolitan.
Pusat Belanja Dan Hiburan Kota
Pada dekade 1930-an hingga masa setelah kemerdekaan, kawasan Tunjungan dikenal sebagai pusat belanja dan hiburan. Toko serba ada, butik, toko sepatu, bioskop, hotel, serta restoran membuat jalan ini ramai sejak siang hingga malam.
Kehadiran berbagai jenis usaha menjadikan Tunjungan sebagai tempat yang mempertemukan banyak kelompok masyarakat. Warga datang untuk berbelanja, menonton film, menikmati hidangan, atau sekadar berjalan-jalan melihat suasana kota. Tradisi tersebut membentuk karakter Tunjungan sebagai ruang komersial sekaligus ruang sosial.
Jejak kejayaan itu masih dapat dibaca melalui fasad bangunan lama, bentuk jendela, garis atap, dan susunan ruko yang mengikuti gaya arsitektur pada zamannya. Walaupun sejumlah bangunan telah berganti fungsi, pola aktivitasnya tetap terasa: Tunjungan selalu menjadi tempat untuk berkumpul dan merayakan kehidupan kota.
Hotel Oranje Dan Momen 10 November
Salah satu bangunan paling penting dalam sejarah Jalan Tunjungan adalah Hotel Oranje, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit. Hotel ini dibuka pada awal abad ke-20 dan menjadi tempat menginap para pedagang, pejabat, serta pelancong yang datang ke Surabaya.
Bangunan tersebut memiliki arti khusus karena berkaitan dengan peristiwa penyobekan warna biru pada bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945. Pemuda Surabaya menaiki bagian atas hotel dan mengubah bendera merah, putih, biru menjadi merah putih. Peristiwa ini menjadi salah satu simbol keberanian rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kisah itu membuat Jalan Tunjungan tidak hanya penting dari sisi perdagangan dan arsitektur, tetapi juga dari sudut sejarah perjuangan. Ketika menyusuri kawasan ini, pengunjung sebenarnya sedang melewati ruang yang pernah menjadi saksi ketegangan politik dan semangat nasionalisme.
| Periode | Ciri utama kawasan | Warisan yang dapat dikenali |
|---|---|---|
| Awal abad ke-20 | Perluasan kota dan perdagangan | Jalan penghubung, toko, hotel, dan bangunan kolonial |
| 1930-an hingga 1940-an | Pusat belanja dan hiburan | Bioskop, restoran, toko modern, serta Hotel Oranje |
| Masa revolusi | Ruang perjuangan dan simbol kemerdekaan | Peristiwa pengibaran bendera di Hotel Yamato |
| Pasca-kemerdekaan | Koridor komersial utama Surabaya | Pertokoan, kuliner, dan aktivitas warga |
| Masa kini | Ruang publik dan wisata heritage | Tunjungan Romansa, pedestrian, UMKM, dan pertunjukan jalanan |
Dari Koridor Dagang Menjadi Ikon Budaya
Setelah Indonesia merdeka, Jalan Tunjungan tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi Surabaya. Kawasan ini mengalami perubahan kepemilikan usaha, fungsi bangunan, dan gaya perdagangan, tetapi daya tariknya tidak hilang. Nama Tunjungan terus melekat dalam ingatan warga sebagai tempat belanja dan hiburan yang bergengsi.
Perkembangan pusat perbelanjaan modern di berbagai wilayah Surabaya sempat mengubah pola kunjungan masyarakat. Namun, nilai sejarah dan karakter arsitektur Tunjungan membuatnya tetap memiliki daya tarik tersendiri. Kawasan ini kemudian dipandang sebagai aset cagar budaya dan identitas kota yang perlu dirawat.
Revitalisasi area pedestrian turut menghidupkan kembali suasana jalan. Trotoar yang lebih nyaman, pencahayaan malam, ruang duduk, serta pertunjukan seni membuka kesempatan bagi warga untuk menikmati Tunjungan tanpa harus selalu berbelanja di dalam gedung.
Tunjungan Romansa Dan Kuliner Malam
Penataan Tunjungan Romansa memperkuat posisi kawasan ini sebagai destinasi wisata kota. Pada malam hari, lampu jalan, ornamen visual, pertunjukan musik, dan keramaian pejalan kaki menciptakan suasana yang berbeda dari Tunjungan pada siang hari.
Kawasan ini juga dekat dengan beragam pilihan kuliner Surabaya. Pengunjung dapat menemukan makanan tradisional, jajanan kaki lima, minuman kekinian, hingga restoran yang menempati bangunan bersejarah. Kehadiran kuliner malam membuat kunjungan tidak berhenti pada kegiatan berfoto atau melihat bangunan tua.
Bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif, ramainya pedestrian memberi ruang untuk memperkenalkan produk lokal. Makanan, kerajinan, pertunjukan, dan cerita sejarah berpadu menjadi pengalaman yang lebih lengkap bagi wisatawan maupun warga setempat.
Makna Cardiac Zone Bagi Surabaya
Istilah Cardiac Zone dapat dipahami sebagai gambaran tentang Tunjungan sebagai “jantung” aktivitas kota. Denyutnya terlihat dari pergerakan manusia, transaksi usaha, kegiatan seni, wisata sejarah, serta interaksi warga yang berlangsung hampir sepanjang hari.
Sebutan ini juga menggambarkan perubahan fungsi ruang. Jika dahulu Tunjungan terutama dikenal sebagai pusat perdagangan kolonial dan kawasan hiburan, kini koridor tersebut berperan sebagai ruang publik yang menghubungkan sejarah dengan kebutuhan kota modern.
Menjaga Cardiac Zone berarti merawat lebih dari sekadar trotoar dan bangunan. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, serta pengunjung perlu menjaga kebersihan, menghormati bangunan heritage, dan mendukung kegiatan lokal agar denyut kawasan tetap sehat dalam jangka panjang.
Cara Menikmati Warisan Jalan Tunjungan
Agar kunjungan terasa lebih bermakna, beberapa hal berikut dapat dilakukan:
- Menyusuri trotoar dari satu bangunan bersejarah ke bangunan lain sambil memperhatikan detail arsitekturnya.
- Mengunjungi area Hotel Majapahit dan mengenang kaitannya dengan peristiwa perjuangan 1945.
- Menikmati kuliner lokal pada sore atau malam hari dengan memilih usaha kecil di sekitar kawasan.
- Mengikuti tur sejarah, pertunjukan komunitas, atau agenda budaya yang berlangsung di ruang publik.
- Mengabadikan suasana Tunjungan tanpa mengganggu pejalan kaki, pedagang, maupun aktivitas warga.
Menyusuri Denyut Kota Hari Ini
Jalan Tunjungan menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di balik museum. Ia hadir dalam bentuk bangunan, nama jalan, aroma makanan, suara musik, dan kebiasaan warga yang terus menggunakan ruang tersebut dari generasi ke generasi.
Datanglah ke Tunjungan dengan waktu yang cukup untuk berjalan kaki, membaca kisah di balik bangunan lama, dan menikmati kuliner Surabaya. Dengan begitu, perjalanan singkat di Cardiac Zone ini dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal denyut sejarah dan kehidupan kota secara lebih dekat.