Gedung Internatio, Saksi Perdagangan dan Pergolakan Surabaya
Gedung Internatio berdiri di kawasan Jembatan Merah, salah satu ruang kota paling bersejarah di Surabaya. Bangunan ini pernah menjadi kantor perusahaan dagang dan lembaga keuangan pada masa kolonial, ketika kawasan sekitar Kalimas berkembang sebagai pusat perdagangan, pelabuhan, serta pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
Kini, gedung tersebut lebih dari sekadar peninggalan arsitektur. Dinding dan ruangnya mengingatkan pada perubahan ekonomi Hindia Belanda, pendudukan Jepang, serta pergolakan bersenjata setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Memahami riwayatnya berarti membaca Surabaya melalui hubungan antara bangunan, perdagangan, dan perjuangan warga kota.
Letak strategis di kawasan Jembatan Merah
Jembatan Merah sejak dahulu menghubungkan kawasan perdagangan di bagian utara dan selatan Surabaya. Di sekitarnya terdapat kantor dagang, gudang, toko, bank, serta jalur menuju pelabuhan. Posisi ini membuat kawasan tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi paling penting di kota.
Gedung Internatio berada di lingkungan yang ramai oleh lalu lintas barang dan manusia. Komoditas dari wilayah pedalaman dibawa menuju pelabuhan, sementara barang impor masuk melalui jaringan niaga yang dikendalikan perusahaan-perusahaan besar. Kehadiran gedung perkantoran dengan bentuk kokoh mencerminkan peran Surabaya sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan Jawa Timur.
Dibangun untuk kepentingan perdagangan kolonial
Nama Internatio berkaitan dengan Internationale Crediet- en Handelsvereeniging Rotterdam, perusahaan Belanda yang bergerak dalam bidang kredit dan perdagangan. Gedung ini didirikan pada akhir dekade 1920-an, ketika investasi dan kegiatan ekonomi kolonial mengalami perkembangan pesat di Surabaya.
Fungsi utamanya bukan sebagai tempat tinggal, melainkan kantor untuk mengatur transaksi, pembiayaan, korespondensi dagang, dan hubungan bisnis. Dari tempat seperti inilah keputusan mengenai komoditas, pinjaman, pengiriman, serta jaringan pemasok dapat memengaruhi kehidupan ekonomi di berbagai daerah.
Kemegahan gedung juga memiliki makna sosial. Arsitektur perkantoran kolonial dirancang untuk menunjukkan stabilitas, kewibawaan, dan kemampuan administratif perusahaan. Namun, sistem ekonomi yang ditopangnya tetap berada dalam struktur kolonial yang memberi keuntungan lebih besar kepada perusahaan Eropa dibandingkan pekerja dan pelaku usaha pribumi.
Arsitektur yang menyimpan jejak zaman
Tampilan Gedung Internatio memperlihatkan kecenderungan arsitektur modern pada masa kolonial. Garis bangunan yang tegas, bukaan jendela, dan susunan massa yang fungsional menunjukkan peralihan dari gaya kolonial awal menuju bentuk perkantoran yang lebih praktis. Rancangannya menyesuaikan kebutuhan ruang kerja sekaligus iklim tropis Surabaya.
Bangunan seperti ini biasanya memiliki sirkulasi udara, pencahayaan, dan struktur yang diperhitungkan untuk aktivitas kantor dalam skala besar. Detail arsitekturnya tidak berdiri sendiri, karena terhubung dengan sejarah kawasan di sekelilingnya: pasar, pelabuhan, jalur trem, dan permukiman yang dihuni masyarakat dari latar belakang beragam.
Kawasan Jembatan Merah juga memperlihatkan percampuran budaya yang khas Surabaya. Pengaruh Jawa, Madura, Arab, Tionghoa, dan Eropa hadir dalam perdagangan, bahasa, kuliner, serta kehidupan sehari-hari. Jejak keberagaman itu masih terasa dalam kuliner khas Surabaya yang berkembang di berbagai sudut kota.
Peran dalam pergolakan setelah kemerdekaan
Setelah Jepang menyerah pada 1945, Surabaya menjadi salah satu pusat perlawanan paling kuat terhadap upaya pengembalian kekuasaan kolonial. Gedung-gedung penting di sekitar Jembatan Merah kembali memiliki nilai strategis karena berada dekat jalur pergerakan pasukan, pusat komunikasi, dan kawasan perdagangan.
Gedung Internatio kemudian berkaitan erat dengan ketegangan antara pejuang Republik dan pasukan Inggris yang datang dalam misi pelucutan senjata Jepang serta pembebasan tawanan perang. Pada akhir Oktober 1945, situasi di sekitar gedung memanas. Pasukan Inggris berada di dalam atau sekitar kawasan tersebut, sementara laskar dan warga Surabaya mengawasi pergerakan mereka.
Peristiwa yang paling sering dikaitkan dengan gedung ini adalah tewasnya Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby pada 30 Oktober 1945. Mallaby gugur di sekitar Jembatan Merah ketika terjadi bentrokan dan situasi yang hingga kini memiliki berbagai versi kesaksian. Peristiwa itu memperuncing konflik dan menjadi salah satu rangkaian menuju pertempuran besar pada November 1945.
Makna pelestarian bagi warga Surabaya
Nilai Gedung Internatio terletak pada lapisan ceritanya. Ia merupakan bekas kantor perusahaan kolonial, penanda perkembangan kota pelabuhan, sekaligus saksi masa ketika Surabaya mempertahankan kemerdekaan. Setiap lapisan tersebut membantu menjelaskan bahwa sejarah kota dibentuk oleh keputusan ekonomi dan keberanian masyarakat.
Pelestarian bangunan bersejarah memerlukan perhatian terhadap struktur, lingkungan, serta kisah yang menyertainya. Gedung yang dirawat tanpa narasi akan kehilangan sebagian maknanya, sedangkan cerita tanpa ruang fisik mudah terlepas dari konteks. Karena itu, informasi sejarah, penanda lokasi, dokumentasi, dan kegiatan edukasi penting untuk menghidupkan kembali ingatan publik.
Mengunjungi kawasan ini juga membuka kesempatan untuk memahami Surabaya di luar tujuan wisata populer. Pengunjung dapat mengamati hubungan antara gedung, jalan, sungai, dan kawasan perdagangan lama. Dari sana tampak bahwa perkembangan kota berlangsung melalui perubahan fungsi ruang, tetapi jejak masa lalu tetap memberi karakter pada kehidupan masa kini.
Gedung Internatio patut diingat sebagai saksi perjalanan Surabaya dari pusat niaga kolonial menjadi kota perjuangan. Sejarahnya mempertemukan urusan perdagangan, percampuran budaya, arsitektur, dan konflik bersenjata dalam satu tempat. Yang perlu diingat adalah bahwa bangunan bersejarah tidak hanya menyimpan usia, melainkan juga pengalaman masyarakat yang membentuk identitas kota.