Rute Jalan-Jalan Kaki di Darmo yang Penuh Sejarah
Kawasan Darmo merupakan salah satu bagian Surabaya yang menarik dijelajahi dengan berjalan kaki. Jalan- jalannya dinaungi pepohonan besar, dihiasi bangunan lama, serta terhubung dengan taman kota, ruang publik, tempat ibadah, dan pusat kuliner yang telah menjadi bagian dari kehidupan warga selama puluhan tahun.
Rute ini cocok bagi pencinta sejarah kota, penggemar arsitektur kolonial, maupun wisatawan yang ingin menikmati Surabaya dengan tempo lebih santai. Perjalanan dapat dimulai dari Taman Bungkul, menyusuri Jalan Raya Darmo, lalu berakhir di sekitar Kebun Binatang Surabaya dan kawasan Jalan Diponegoro.
Berjalan kaki di Darmo juga memberi kesempatan untuk melihat detail yang sering terlewat dari balik jendela kendaraan. Mulai dari bentuk fasad rumah lama hingga aktivitas pedagang dan warga yang memanfaatkan ruang terbuka, semuanya membentuk cerita perkotaan yang khas.
Memulai perjalanan dari Taman Bungkul
Taman Bungkul menjadi titik awal yang ideal karena mudah dicapai dari berbagai arah. Taman ini berada di jantung kawasan Darmo dan dikenal sebagai ruang publik yang ramai sejak pagi hingga malam. Area hijaunya kerap digunakan untuk berolahraga, bersantai, berkumpul, dan menikmati jajanan khas Surabaya.
Nama Bungkul berkaitan dengan tokoh Ki Ageng Supo, yang makamnya berada di sekitar kawasan taman. Keberadaan makam tersebut menjadi pengingat bahwa area ini memiliki lapisan sejarah yang lebih panjang daripada perkembangan kota modern di sekitarnya.
Sebelum berjalan, luangkan waktu untuk mengamati susunan taman, jalur pedestrian, dan aktivitas warga. Pada pagi hari, suasananya lebih teduh, sedangkan sore hingga malam menghadirkan pilihan makanan kaki lima dan suasana yang lebih hidup.
Menyusuri Jalan Raya Darmo
Dari Taman Bungkul, perjalanan dapat dilanjutkan ke Jalan Raya Darmo dengan berjalan di sisi jalan yang memiliki pepohonan rindang. Koridor ini merupakan salah satu ruas jalan penting di Surabaya dan telah berkembang sejak masa kolonial. Lebar jalan serta deretan vegetasi membuatnya berbeda dari banyak kawasan perkotaan lain.
Sepanjang rute, perhatikan rumah-rumah lama, pagar, bentuk jendela, dan garis atap bangunan. Sebagian bangunan telah mengalami perubahan fungsi, tetapi unsur arsitektur masa lalu masih dapat ditemukan. Jangan memasuki halaman atau memotret bagian privat tanpa izin karena beberapa bangunan masih menjadi tempat tinggal.
Rute inti dapat ditempuh sekitar dua hingga tiga kilometer, tergantung titik awal dan jumlah pemberhentian. Perkiraan berikut membantu menyesuaikan perjalanan dengan waktu yang tersedia.
| Titik perjalanan | Jarak perkiraan | Waktu berjalan | Hal yang dapat diamati |
|---|---|---|---|
| Taman Bungkul–Jalan Raya Darmo | 300–500 meter | 5–8 menit | Taman kota dan pepohonan tua |
| Jalan Raya Darmo–RS Darmo | 700–900 meter | 10–15 menit | Koridor jalan dan bangunan bersejarah |
| RS Darmo–Kebun Binatang Surabaya | 800 meter–1 kilometer | 12–18 menit | Arsitektur lama dan ruang publik |
| Kebun Binatang–Jalan Diponegoro | 500–700 meter | 8–12 menit | Kuliner, pertokoan, dan kehidupan warga |
Mengamati warisan arsitektur dan layanan publik
Rumah Sakit Darmo menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan ini. Kompleks tersebut dikenal memiliki bangunan bergaya kolonial yang memperlihatkan karakter arsitektur awal abad ke-20. Bentuk atap, bukaan lebar, serta tata ruangnya mencerminkan kebutuhan bangunan tropis pada masa itu.
Pengunjung perlu menjaga jarak dan menghormati fungsi rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan. Pengamatan sebaiknya dilakukan dari ruang publik tanpa mengganggu pasien, tenaga medis, maupun aktivitas operasional.
Di sekitar koridor Darmo, terdapat pula bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum lama yang menunjukkan perubahan Surabaya dari kawasan permukiman elit menjadi bagian dari pusat kota yang padat. Perpaduan bangunan bersejarah dengan kafe, kantor, dan toko modern membuat rute ini terasa dinamis.
Berhenti di Kebun Binatang Surabaya
Kebun Binatang Surabaya dapat menjadi titik istirahat sekaligus tujuan utama dalam rute jalan kaki. Tempat ini berdiri sejak 1918 dan memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Lokasinya yang berada di pusat kota menjadikannya penanda geografis penting bagi kawasan Darmo.
Bagi yang ingin masuk, siapkan waktu lebih panjang karena area di dalam cukup luas. Namun, wisatawan yang hanya ingin menyelesaikan rute juga dapat menikmati suasana sekitar, melihat keramaian pintu masuk, atau beristirahat di ruang publik di sekitarnya.
Dari kawasan ini, perjalanan bisa diteruskan menuju Jalan Diponegoro. Ruas tersebut memiliki berbagai pilihan makanan, toko, dan warung yang cocok untuk mengakhiri sesi jalan-jalan sejarah dengan pengalaman kuliner Surabaya.
Menikmati kuliner setelah berjalan kaki
Jalan kaki di Darmo terasa lebih lengkap dengan mencicipi makanan lokal. Pilihannya beragam, mulai dari lontong balap, tahu campur, rawon, nasi campur, hingga kudapan yang dijajakan pada sore dan malam hari. Beberapa warung telah lama dikenal warga, sementara tempat makan baru terus bermunculan di sekitar Darmo dan Diponegoro.
Agar perjalanan tetap nyaman, sebaiknya berhenti makan di tempat yang memiliki area duduk memadai. Bawalah uang tunai secukupnya karena sebagian pedagang kaki lima belum menyediakan pembayaran digital. Jangan lupa menjaga kebersihan dan membuang kemasan pada tempatnya.
Waktu terbaik untuk berburu kuliner adalah setelah pukul empat sore ketika cuaca mulai lebih bersahabat. Pada malam hari, suasana semakin ramai, tetapi pejalan kaki perlu lebih cermat saat menyeberang dan berbagi ruang dengan kendaraan.
Menyiapkan langkah dengan aman dan nyaman
Rute kawasan Darmo relatif mudah diikuti, tetapi kondisi trotoar dapat berbeda-beda di setiap titik. Gunakan alas kaki yang nyaman, bawa air minum, dan pilih pakaian ringan. Topi atau payung juga berguna karena tidak semua bagian jalan terlindung pepohonan.
Sediakan waktu sekitar dua hingga empat jam agar dapat berjalan tanpa terburu-buru. Gunakan peta digital untuk memeriksa arah, terutama saat berpindah dari Jalan Raya Darmo menuju Jalan Diponegoro. Jika datang menggunakan kendaraan pribadi, pertimbangkan lokasi parkir sejak awal dan jangan memarkir di bahu jalan yang mengganggu lalu lintas.
Bekal sederhana untuk menjelajahi Darmo
- Berangkat pagi atau menjelang sore untuk menghindari panas terik.
- Membawa botol minum, tisu, dan kantong kecil untuk sampah pribadi.
- Memotret bangunan dari ruang publik tanpa mengganggu penghuni atau pengguna fasilitas.
- Menyisihkan waktu untuk beristirahat di Taman Bungkul atau area teduh di sepanjang rute.
- Memilih kuliner lokal dari pedagang yang menjaga kebersihan tempat dan makanan.
Rute berjalan kaki di Darmo memperlihatkan Surabaya melalui detail yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: taman yang ramai, rumah lama, rumah sakit bersejarah, kebun binatang, hingga warung yang menghidangkan rasa khas kota. Jadikan perjalanan ini sebagai cara sederhana untuk mengenal sejarah dan budaya lokal, lalu bagikan pengalaman serta temuan menarik Anda kepada komunitas Cerita Surabaya.