Pak Hadi dan Semangkuk Soto Daging Sapi di Embong Ploso
Jalan Embong Ploso, salah satu ruas yang jarang masuk sorotan wisata namun sarat denyut kehidupan warga Surabaya. Di sepanjang trotoar yang menyempit di sore hari, aroma kuah santan yang gurih bercampur dengan wangi rempah menguar dari sebuah gerobak sederhana. Di situlah, sejak dua puluh tahun lalu, seorang pria paruh baya menyajikan soto daging sapi yang menjadi konsumsi wajib banyak pekerja kantoran, tukang becak, hingga mahasiswa kost sekitar.
Sosok itu adalah Pak Hadi, penjual soto daging sapi yang namanya dikenal dari mulut ke mulut. Wajahnya tenang, suaranya pelan, dan tangannya tak pernah berhenti mengaduk kuah sejak pukul empat sore. Cerita tentang beliau bukan sekadar soal rasa, melainkan tentang bagaimana sebuah usaha rumahan bertahan di tengah perubahan zaman Surabaya yang semakin modern dan penuh persaingan kuliner.
Asal Usul dan Awal Merantau
Pak Hadi lahir di sebuah desa kecil di Lamongan pada 1968. Ia merantau ke Surabaya saat berusia tujuh belas tahun dengan bekal kemampuan memasak yang dipelajari dari ibunya. Awalnya ia bekerja sebagai kuli di sebuah warung soto di kawasan Peneleh, tempat ia belajar meracik kuah, memilih daging, dan menentukan takaran bumbu yang pas. Setelah lima tahun menimba ilmu, ia memberanikan diri membuka gerobak sendiri di Jalan Embong Ploso, lokasi yang dipilihnya karena dekat dengan permukiman pekerja dan aktivitas pasar.
Keputusan itu bukan tanpa perhitungan. Pak Hadi tahu bahwa soto daging sapi merupakan salah satu menu favorit warga Surabaya, apalagi yang disajikan dengan kuah bening kaya rempah. Ia pun mulai menata gerobak kayu warisan, memajang etalase kaca sederhana, dan menuliskan namanya di atas kain putih. Dari situlah cerita panjangnya bermula.
Resep yang Dipertahankan Turun Temurun
Rahasia yang membuat hidangan Pak Hadi bertahan selama puluhan tahun terletak pada resep keluarga. Ia masih menggunakan ramuan yang diajarkan ibunya, termasuk campuran bawang merah, bawang putih, lengkuas, serai, daun salam, dan sedikit kayu manis. Kuahnya dimasak perlahan selama empat jam agar sari daging dan tulang keluar sempurna, menghasilkan warna keemasan yang jernih.
Daging sapi yang dipilih selalu bagian sandung lamur dan tetelan, dipotong kecil agar mudah disantap. Pelengkap berupa soun, tauge, daun bawang, seledri, serta perasan jeruk nipis menjadi ciri khas yang membuat banyak pelanggan kembali. Sambal terasi buatan istrinya, yang diulek setiap pagi, melengkapi rasa gurih menjadi pedas segar di akhir suapan.
Rutinitas Menyiapkan Kuah Setiap Sore
Pagi hari di kediaman Pak Hadi bukan milik dirinya sendiri. Sejak pukul sembilan, ia sudah berada di pasar tradisional untuk memilih daging sapi segar. Setelah bahan terkumpul, ia memasak kuah di dapur belakang rumahnya yang sederhana. Pengadukan dilakukan terus-menerus agar bumbu meresap merata dan kuah tidak gosong di bagian dasar panci.
Menjelang maghrib, seluruh isi panci besar sudah berpindah ke gerobak. Ia berangkat dengan jalan kaki dari rumah ke Embong Ploso, sebuah rutinitas yang jarang dilewatkan meski hujan mengguyur. Bagi Pak Hadi, konsistensi adalah kunci. Pelanggan yang datang hari ini mengharapkan rasa yang sama dengan hari kemarin, dan keesokan harinya.
Pelanggan Setia dari Berbagai Kalangan
Warung soto Pak Hadi tidak pernah memasang papan nama besar, namun kursi plastiknya nyaris tidak pernah kosong saat jam makan malam. Di antara pelanggannya terdapat pegawai instansi pemerintah yang singgah sepulang kerja, tukang ojek yang mampir sebelum ngetem, hingga mahasiswa yang berburu makan berat dengan harga bersahabat. Beberapa pelanggan bahkan sudah mengenal Pak Hadi sejak gerobaknya masih berupa kayu sederhana.
Suasana di sekitar warung sering kali menjadi ruang sosial tanpa direncanakan. Suara tawa, obrolan ringan tentang pertandingan sepak bola, hingga diskusi kecil soal harga kebutuhan pokok mengisi udara. Di sinilah soto tidak hanya menjadi makanan, melainkan perekat hubungan antarwarga. Banyak pelanggan yang akhirnya saling mengenal karena sering berpapasan di gerobak yang sama.
Komunitas Lokal yang Singgah di Warung
Embong Ploso juga menjadi titik pertemuan berbagai komunitas, salah satunya komunitas penggemar Vespa yang sering melakukan kopdar di kawasan tersebut. Para anggota komunitas Vespa Surabaya kerap mampir ke warung Pak Hadi seusai acara untuk menikmati soto sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Kehadiran mereka menambah semarak suasana sekaligus memperkenalkan warung kecil ini ke lebih banyak pencinta kuliner jalanan.
Interaksi sederhana seperti ini memberi Pak Hadi rasa terhubung dengan denyut kota yang terus berubah. Ia tidak sekadar berjualan, melainkan turut merawat ruang publik yang ramah bagi siapa saja. Bagi banyak orang, singgah ke gerobaknya terasa seperti pulang ke sudut kota yang sudah lama dikenal.
Tantangan di Tengah Gaya Hidup Baru
Berjualan soto daging sapi di tengah arus makanan kekinian tentu bukan perkara mudah. Kemunculan kedai soto dengan konsep modern, layanan pesan antar daring, serta perubahan selera generasi muda menjadi ujian yang nyata. Pak Hadi mengakui bahwa omsetnya sempat turun pada awal pandemi, ketika banyak pekerja beralih bekerja dari rumah dan aktivitas malam berkurang.
Ia memilih bertahan dengan cara yang sederhana. Harga tetap dijaga agar bersahabat, porsi dijaga agar mengenyangkan, dan rasa tidak diubah sedikit pun. Anak-anaknya kini turut membantu di bagian kasir dan pengemasan, memberikan sedikit kelegaan di tengah padatnya aktivitas harian. Pelanggan lama yang kembali adalah bukti bahwa konsistensi masih bernilai di zaman yang serba cepat.
Harapan Sederhana untuk Masa Depan
Pak Hadi tidak bermimpi membuka cabang besar atau membangun merek terkenal. Baginya, cukup jika gerobak di Embong Ploso tetap berdiri dan anak cucu bisa melanjutkan usaha jika mereka berkenan. Ia berharap pemerintah kota terus memperhatikan kebersihan dan kelayakan area kuliner kaki lima, karena dari sinilah banyak keluarga menggantungkan hidup.
Baginya, soto daging sapi bukan sekadar hidangan, melainkan identitas kecil yang membentuk memori warga Surabaya. Setiap mangkuk yang tersaji membawa jejak perjalanan panjang, dari desa di Lamongan hingga sudut kota yang tidak pernah tidur.
Di sore yang mulai meredup, Pak Hadi kembali mengaduk kuah dengan tenang. Semangkuk soto di atas meja kayu sederhana mengandung cerita tentang ketekunan, tentang keluarga, dan tentang Surabaya yang hidup dari tangan-tangan kecil yang bekerja tanpa lelah. Dari gerobaknya, kita belajar bahwa rasa autentik lahir dari kesabaran, dan bahwa sebuah sudut kota bisa menyimpan makna yang jauh melampaui piringnya.