Profil pembuat kalung manik-manik khas Pasar Kembang Surabaya
Di sudut Pasar Kembang yang dikenal sebagai surga bunga potong dan rangkaian melati, ada kios kecil yang jarang mendapat sorotan. Di sanalah seorang perajin bernama Tio menata ribuan butir manik-manik berwarna di atas meja kayu yang gelap dimakan usia. Pasar Kembang bukan sekadar tempat transaksi bunga, melainkan ruang hidup para pelaku ekonomi kreatif yang mempertahankan keahlian tangan warisan leluhur.
Kalung manik-manik buatan tangan memiliki tempat tersendiri di hati warga Surabaya. Warnanya yang cerah, bentuknya variatif, dan kekuatan simboliknya membuat aksesoris ini terus dicari untuk acara adat, dekorasi, atau buah tangan khas kota. Keberadaan Tio di tengah hingar-bingar pedagang bunga menunjukkan satu hal penting: Pasar Kembang adalah laboratorium budaya yang masih aktif berjalan.
Mengenal sosok di balik kerajinan manik-manik memberi gambaran tentang bagaimana Surabaya merawat identitasnya. Kisah perajin seperti Tio jarang naik ke permukaan media, padahal peran mereka menjaga rantai keahlian tetap utuh antargenerasi. Lewat percakapan panjang di kiosnya yang sederhana, tergambar jelas bagaimana cinta pada profesi kecil mampu bertahan di tengah arus modernisasi yang tak pernah berhenti.
Sosok perajin di balik meja kerja
Tio kecil sudah diajari ayahnya merangkai manik sejak umur tujuh tahun, dengan tugas awal yang sederhana: memisahkan manik berwarna serupa ke dalam stoples kaca. Seiring waktu, kemampuan itu berkembang menjadi keahlian membaca pola, memadukan warna, dan merangkai bentuk dengan irama visual. Setelah hampir empat dekade mengayuh waktu di dunia kerajinan, Tio menjadi figur yang tak pernah ia bayangkan akan bertahan selama ini.
Kios Tio tidak pernah memasang papan nama besar. Identitasnya dibangun lewat mulut ke mulut, dari pelanggan tetap yang kembali membawa sahabat atau sanak keluarga. Beberapa pelanggan bahkan datang dari luar kota untuk mempersiapkan hajatan besar dan membutuhkan aksesoris pelengkap. Pesanan jarang ditulis di kertas formal, melainkan cukup lewat gambar sederhana di atas karton bekas.
Kehidupan Tio berubah ketika anak-anaknya memilih jalur karier berbeda. Tidak ada yang meneruskan kiosnya secara langsung, meski beberapa cucu kadang datang di akhir pekan untuk belajar dasar merangkai. Kondisi ini membuatnya mulai berpikir soal keberlanjutan, tantangan yang juga dirasakan banyak kelompok sosial, termasuk komunitas lari pagi yang konsisten menjaga kebiasaan di ruang publik Surabaya.
Proses merangkai dari butiran menjadi perhiasan
Semua berawal dari pemilihan butiran. Tio memisahkan manik kaca, akrilik, kayu, hingga batu alam dari pemasok lokal di Jawa Timur. Setiap jenis punya karakter berbeda: kaca memantulkan cahaya, akrilik ringan di kulit, kayu membawa aroma samar yang menenangkan. Tio biasanya menghabiskan satu hingga dua jam untuk memilah, karena komposisi warna menentukan hasil akhir sebuah kalung.
Setelah pemilahan, proses berikutnya adalah meronce atau merangkai manik pada benang nilon khusus. Tio menggunakan tangan tanpa sarung agar bisa merasakan setiap butiran. Jarum kecil yang ia pakai warisan dari ibunya yang sudah jauh berpulang. Teknik yang ia gunakan campuran cara ayahnya dan eksperimen pribadi sejak remaja, seperti variasi simpul di antara kelompok manik agar kalung lebih lentur saat dipakai.
Pengerjaan satu kalung memakan waktu dua jam hingga tiga hari, tergantung tingkat kerumitan dan jumlah lapisan. Tio tak pernah tergoda memakai mesin, karena baginya mesin menghilangkan jiwa pada setiap barang. Kalung yang dihasilkan pun memiliki sedikit perbedaan satu sama lain, dan justru perbedaan itulah yang menjadi ciri tangan manusia, sesuatu yang sulit ditiru produksi massal.
Motif, warna, dan makna di balik desain
Tio mengaku punya banyak motif andalan, namun yang paling sering diminta adalah kalung tumpuk tiga lapis dengan gradasi merah, kuning, dan hijau. Motif ini terinspirasi dari kelopak bunga di kios tetangganya. Ada pula motif bulan sabit untuk pelanggan muslim yang ingin tampil sederhana namun anggun, serta motif geometris rancangan sendiri yang hanya ada di kiosnya.
Warna bagi Tio bukan sekadar estetika, melainkan bahasa. Merah berarti kehangatan dan keberanian, biru menandakan ketenangan, putih melambangkan kesucian, hijau menggambarkan harapan. Pelanggan yang paham simbol ini biasanya memesan kalung untuk acara tertentu, seperti pernikahan atau syukuran. Kadang mereka membawa cerita tentang makna yang dikehendaki, lalu Tio menerjemahkannya menjadi susunan manik yang dapat dipakai.
Pesanan paling berkesan yang pernah Tio kerjakan adalah kalung untuk seorang penari tradisional yang akan tampil di acara budaya kota. Sang penari meminta kalung yang bisa bergerak mengikuti irama tarian, dan Tio menghabiskan satu minggu penuh menemukan solusi: manik yang lebih ringan dengan sambungan lentur. Penari itu menangis haru saat pertama memakainya, dan Tio masih menyimpan foto kecilnya di laci meja kerja.
Tantangan mempertahankan kerajinan tangan
Di usia yang tak lagi muda, Tio menghadapi kenyataan bahwa pasar manik-manik makin dipenuhi produk impor berharga murah. Perajin kecil seperti dirinya kesulitan bersaing dari sisi harga, meski kualitas jelas tak sebanding. Beberapa tetangga kios sudah menutup usaha dan pindah profesi, meninggalkan gang tempatnya berjualan terasa lebih sepi di sore hari.
Modernisasi membawa tantangan lain berupa perubahan selera pelanggan yang lebih memilih perhiasan logam dan perak. Tio menyadari hal ini, namun memilih tetap pada jalur yang ia yakini: membuat kerajinan yang memiliki cerita, yang setiap butirnya disentuh tangan manusia. Baginya, menyerah pada tren berarti mengkhianati proses panjang yang membentuk identitasnya sebagai perajin.
Untuk menjaga keahliannya, Tio beberapa kali membuka pelatihan singkat bagi siapa pun yang ingin belajar, gratis tanpa bayaran. Beberapa muridnya kini mampu membantu merangkai saat pesanan menumpuk. Semangat berbagi ini pula yang mendorong inisiatif edukasi komunitas untuk ikut mendokumentasikan kisah perajin kecil di Surabaya, agar jejak keahlian tangan mereka tercatat untuk generasi mendatang.
Tempat dan cara mendapatkan kalung Tio
Kios Tio buka setiap hari pukul delapan pagi hingga lima sore, kecuali Minggu ketika ia memilih beristirahat. Lokasinya di sisi timur Pasar Kembang, sekitar dua ratus meter dari pintu utama, mudah dijangkau berjalan kaki maupun kendaraan roda dua. Pelanggan biasanya langsung disambut senyum dan tawaran teh hangat, karena Tio percaya transaksi yang baik dimulai dari percakapan yang baik.
Harga kalung buatan Tio bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah untuk desain sederhana hingga ratusan ribu untuk pesanan khusus. Tio tidak pernah memasang label harga, melainkan mendiskusikan nilai karya berdasarkan bahan, waktu, dan tingkat kesulitan. Sistem ini justru membuat pelanggan merasa dihargai, karena mereka tahu persis apa yang mereka bayar: keahlian tangan yang nyata.
Datanglah ke kios Tio akhir pekan ini pada pagi hari, ikuti aroma melati menuju sisi timur Pasar Kembang, dan minta Tio menunjukkan koleksi motif klasiknya yang jarang dipajang; dari sana Anda bisa memilih satu kalung untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh otentik Surabaya.