Pedagang Es Teler Legendaris di Jalan Panglima Sudirman Surabaya
Mentari mulai condong ke barat ketika Jalan Panglima Sudirman berubah warna. Deretan lampu kaki lima menyala satu per satu, mengundang pejalan kaki, pengguna trotoar, dan pengemudi ojek online yang singgah sejenak. Di antara hiruk-pikuk itu, ada satu titik yang selalu ramai: gerobak es teler yang sudah berdiri berpuluh tahun.
Suara dentingan es batu yang dicukur, aroma sirup gula yang perlahan menguap, dan tawa pelanggan yang datang silih berganti menjadi latar belakang khas sudut jalan ini. Siapa pun yang melintas, baik warga asli Surabaya maupun pendatang, hampir selalu menoleh karena aroma manis itu sulit diabaikan.
Pak Yatno, begitu panggilan akrabnya, sudah menemani ruas jalan ini sejak era 1980-an. Ia bukan sekadar penjual minuman, melainkan penjaga rasa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap mangkuk yang keluar dari tangannya membawa memori kota yang tidak tertulis di buku panduan wisata mana pun.
Es teler sendiri bukan sekadar es campur biasa. Ia adalah minuman yang memadukan alpukat, kelapa muda, nangka, dan susu kental manis di atas serutan es batu yang halus. Pak Yatno menyebut racikannya sebagai "seduhan pendingin hati" yang selalu berhasil mencairkan suasana, baik untuk pelari malam maupun anak kos yang baru pulang kerja.
Awal mula berdiri di trotoar
Gerobak pertama Pak Yatno hanyalah kayu bekas dan roda pincang yang ia dapat dari tetangga. Kala itu, kawasan sekitar Jalan Panglima Sudirman masih banyak dipenuhi lapangan terbuka dan permukiman padat. Ia memilih lokasi ini karena lalu lintas manusia yang ramai, terutama setelah jam pabrik dan pasar tradisional tutup.
Dulu, satu porsi es teler dihargai jauh di bawah nominal receh yang dibayarkan pelanggan zaman sekarang. Namun kelangkaan bahan dan niat belajar dari sang ayah menjadi kunci. Ayahnya adalah penjual jamu keliling yang kerap mangkal di simpang jalan yang sama. Dari percakapan dengan pelanggan, Pak Yatno kecil mendengar resep es serut yang nikmat, lalu mulai mencobanya sendiri.
Waktu membuktikan bahwa keberanian kecil itu menghasilkan legenda. Anak-anak yang pernah menyeruput mangkuknya tiga dekade lalu kini membawa cucu mereka untuk merasakan manis yang sama. Trotoar yang sama, aroma yang sama, hanya harga dan usia manusia yang berubah.
Racikan yang dijaga lintas generasi
Komposisi es teler Pak Yatno tidak berubah banyak sejak hari pertama ia berdagang. Alpukat yang digunakan harus dari pasar yang sama setiap minggu, kelapa muda dipilih yang dagingnya tebal, dan nangka diambil dari pemasok langganan yang hanya menjual buah matang pohon. Tidak ada jalan pintas.
Proses pembuatannya pun dilakukan dengan tangan. Es batu dipotong memanjang lalu dikikir dengan alat sederhana hingga menghasilkan serpihan halus yang gampang menyatu dengan susu. Sirup merahnya direbus sendiri dengan gula pasir dan sedikit air daun pandan, sehingga aromanya lembut dan tidak menyengat.
Rahasianya justru ada pada urutan menuang. Pak Yatno selalu menaruh kelapa muda terlebih dahulu, baru kemudian nangka, alpukat, dan diakhiri dengan es serut. Susu kental manis dituang perlahan di atas es, bukan di dasar mangkuk, agar setiap suapan merasakan keseimbangan rasa yang berbeda.
Bahan segar dari pasar tradisional
Pak Yatno tidak pernah melewatkan kunjungan ke Pasar Pabean setiap subuh. Di sana ia bernegosiasi dengan pedagang buah yang sudah kenal baik dengannya. Hubungan personal ini memastikan kualitas bahan tetap prima, karena setiap buah yang tidak layak langsung ditolak tanpa basa-basi.
Alpukat varietas mentega menjadi favorit karena teksturnya lembut dan warnanya kuning kehijauan saat diserut. Nangka yang dipilih harus yang sudah tua dan berbau manis, bukan nangka muda yang masih kecut. Kelapa muda diambil dari kebun di sekitar Sidoarjo, dikirim setiap dua hari sekali dalam peti kayu agar airnya tidak berubah rasa.
Semua bahan disiapkan pada siang hari, lalu dimasukkan ke wadah stainless steel yang sudah didinginkan. Menjelang sore, komposisi sudah siap saji, tinggal menambahkan es serut dan sirup di tempat. Tidak ada bahan yang didiamkan berhari-hari, karena kesegaran adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Pelanggan tetap dan cerita di balik mangkuk
Banyak wajah yang datang setiap malam, dan Pak Yatno hafal pesanan mereka. Ada bapak pensiunan yang selalu minta porsi besar dengan tambahan nangka lebih. Ada mahasiswi yang selalu memesan tanpa alpukat karena alergi, dan ada pengemudi ojek online yang mampir hanya untuk menukar cerita singkat.
Salah satu pelanggan setia, Mbak Rini, mengaku sudah datang sejak masih gadis. Kini ia datang bersama suaminya dan tiga anaknya. Baginya, es teler Pak Yatno adalah penanda waktu, seperti jam dinding yang menghitung kenangan keluarga dari generasi ke generasi.
Ada pula kisah tentang artis ibukota yang pernah singgah tanpa identitas, dan mahasiswa rantau yang menjadikan gerobak ini sebagai tempat pertama mereka merasakan keramahan Surabaya. Cerita-cerita ini jarang dibukukan, hanya mengalir dalam obrolan ringan di atas mangkuk bening yang penuh warna.
Suasana Jalan Panglima Sudirman saat malam
Jalan Panglima Sudirman memang memiliki denyut yang berbeda setelah matahari terbenam. Suara klakson bercampur dengan alunan musik dari kafe pinggir jalan. Bau sate, bakso, dan gorengan menyatu dengan aroma manis dari gerobak es. Di tengah hingar-bingar itu, Pak Yatno menjadi titik tenang yang kontras.
Lampu petromak masih ia nyalakan untuk menerangi area saji, meskipun listrik PLN sudah tersedia di sekitar situ. Cahaya kuningnya memantul pada permukaan mangkuk kaca, memberikan kesan hangat yang sulit ditemukan pada gerobak modern berbalut neon. Pelanggan duduk di kursi plastik rendah, sebagian lesehan di karpet yang digelar di atas trotoar.
Bagi pengguna jalan yang kebetulan lewat, melihat gerobak ini seperti menemukan oasis. Beberapa sengaja memarkirkan motor di seberang jalan hanya untuk menikmati satu mangkuk, lalu melanjutkan perjalanan. Rutinitas kecil yang membentuk karakter kota ini.
Warisan kuliner yang harus dijaga
Kini usia Pak Yatno sudah memasuki kepala enam. Ia mulai memikirkan siapa yang akan melanjutkan tradisi ini. Anaknya yang tinggal di luar kota enggan pulang untuk berdagang, sementara menantu lebih memilih pekerjaan kantoran. Namun ada beberapa pemuda sekitar yang ia ajari secara perlahan, tanpa perjanjian tertulis.
Tantangan terbesar justru datang dari luar. Rantai es campur kekinian bermerek besar mulai bermunculan di sudut-sudut kota. Harga mereka lebih tinggi, kemasan lebih rapi, namun rasa yang disajikan tidak pernah menyentuh memori masa kecil. Di sinilah letak kekuatan es teler Pak Yatno: ia menjual rasa, bukan sekadar produk.
Surabaya akan kehilangan satu denyut nadinya jika gerobak ini benar-benar hilang. Karena itu, mendatangi langsung, memesan satu mangkuk, dan mendengar ceritanya adalah cara paling sederhana untuk menjaga warisan kuliner ini tetap hidup.
Bagi yang ingin merasakannya sendiri, datanglah ke Jalan Panglima Sudirman pada pukul tujuh malam, pesan satu porsi es teler lengkap, dan ajak tetangga atau sahabat untuk ikut duduk di kursi plastik yang sama. Satu mangkuk di tangan, satu cerita yang ikut pulang.