Kurir Sepeda yang Menjadi Tetangga di Jalanan Surabaya Utara
Pagi di kawasan Surabaya Utara punya ritme sendiri. Sebelum truk pengangkut barang mulai memenuhi Jalan Krembangan, seorang pesepeda sudah melintas pelan di antara gang sempit. Dia bukan pesepeda santai yang sekadar olahraga akhir pekan. Tubuhnya membawa ransel besar berisi paket, dokumen, dan kadang buah tangan dari pelanggan tetapnya. Selama bertahun-tahun, warga di sekitar Pabean, Krembangan, dan Semampir mengenal sosok ini sebagai kurir andalan mereka.
Namanya Pak Rohman. Usianya sudah lewat lima puluh, tapi tenaganya masih utuh untuk mengayuh dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Ia mulai bekerja dengan sepeda sekitar dua dekade lalu, ketika motor masih menjadi barang mewah bagi banyak keluarga pesisir Surabaya. Saat ini, ia tetap bertahan dengan alasan yang lebih sederhana: tetangganya yang sudah merasa kehilangan kalau ia tidak datang.
Rute hariannya tidak pernah tertulis di aplikasi peta. Pak Rohman hafal jalan tikus, gang buntu yang tembus ke permukiman padat, serta jalan utama yang menjadi jalur para pedagang ikan Pasar Pahing. Pengetahuannya tentang lorong-lorong Surabaya bukan karena membaca peta, melainkan karena mengayuh setiap jengkalnya bersama waktu.
Banyak pelanggan yang sudah menganggap Pak Rohman sebagai bagian dari keluarga. Seorang ibu rumah tangga di kawasan Bulak selalu menyisihkan nasi bungkus untuknya. Tukang servis sepatu di Jalan Ploso tak sungkan menitipkan uang pembayaran kepada sang kurir untuk diteruskan ke pelanggan lain. Sikap saling percaya inilah yang membuat pekerjaannya lebih dari sekadar mengantarkan barang.
Sepeda Tua, Cerita Panjang di Setiap Putaran
Sepeda yang dikayuh Pak Rohman bukan jenis baru. Rangkanya sudah beberapa kali dilas, cat hijau tuanya mengelupas di beberapa sudut, dan rantai sering berbunyi nyaring ketika melintasi tanjakan. Ia memperoleh sepeda itu dari kakaknya yang dulu bekerja di pelabuhan Tanjung Perak. Sejak berpindah tangan, roda dua itu sudah mengarungi berbagai medan, dari jalan aspal mulus sampai gang becek selepas hujan.
Meskipun tampak sederhana, Pak Rohman merawat sepeda itu dengan telaten. Setiap pekan, ia membersihkan rantai, memeriksa ban, dan mengencangkan baut yang mulai longgar. Ia percaya bahwa kerusakan kecil yang dibiarkan akan menjadi masalah besar di tengah perjalanan. Kebiasaan ini membuatnya jarang terlambat, walau jalanan Surabaya kadang tidak bisa ditebak.
Sepeda juga menjadi tempat ia menggantungkan identitasnya. Di bagian belakang, ia menempelkan kartu nama kecil bertuliskan nomor ponsel yang bisa dihubungi pelanggan. Ada pula tulisan tangan yang menyebut nama daerah tempat ia biasa beroperasi. Dari tampilan sederhana itulah, banyak warga baru di Surabaya Utara mengenalinya sebagai kurir yang siap menerima pesanan kapan saja.
Pelanggan Tetap dari Pasar sampai Pintu Rumah
Pelanggan Pak Rohman tidak hanya datang dari satu kalangan. Ada pedagang kecil di Pasar Atum yang menitipkan dagangannya kepada pembeli di kawasan Ampel. Ada pula karyawan kantor di sekitar Jalan Tunjungan yang menitipkan oleh-oleh untuk keluarganya di Krembangan. Setiap permintaan selalu ia catat di buku kecil yang disimpan di saku kemejanya.
Salah satu pelanggan tetapnya adalah seorang nenek di kawasan Pegirian. Setiap dua minggu sekali, sang nenek memesan obat herbal dari toko yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Pak Rohman tidak hanya mengambilkan barang, tetapi juga memastikan obat sampai dalam kondisi baik. Kadang ia berhenti sejenak, berbincang singkat, lalu melanjutkan perjalanan ke alamat berikutnya.
Ada pula pelanggan dari komunitas pengusaha muda di sekitar Rungkut yang sengaja memilih jasanya. Mereka menilai kurir bersepeda lebih hemat biaya, terutama untuk pengiriman dokumen dan barang kecil di dalam kota. Walau layanan ojek daring semakin mudah ditemukan, para pelanggan ini menilai hubungan personal dengan Pak Rohman punya nilai yang sulit ditiru aplikasi mana pun.
Mengenal Karakter Jalanan Surabaya Utara
Jalanan Surabaya Utara punya karakter yang khas. Kawasan pesisir seperti Bulak dan Kenjeran sering diterpa angin kencang, terutama pada siang hari. Ketika angin bertiup terlalu kuat, mengayuh sepeda melawan arah menjadi pekerjaan yang melelahkan. Pak Rohman mengaku belajar mengatur waktu agar tidak terjebak di area terbuka saat angin sedang puncak.
Kondisi jalan juga beragam. Ada gang yang sempitnya hanya cukup untuk satu gerobak, ada jembatan kecil yang perlu dilalui dengan hati-hati, dan ada ruas jalan utama yang padat oleh kendaraan berat dari arah pelabuhan. Ia mengenal setiap karakter itu tanpa perlu membaca rambu. Pengalaman puluhan tahun menjadikannya pembaca situasi yang andal di setiap sudut kota.
Hujan menjadi tantangan tambahan. Beberapa kawasan di Surabaya Utara masih rawan genangan, terutama di dekat saluran air yang tidak lancar. Ketika langit mulai gelap, Pak Rohman biasanya sudah menyelesaikan pengiriman di area yang sulit dilalui. Ia selalu membawa mantel hujan sederhana yang sudah ia siapkan sejak pagi, karena perubahan cuaca di pesisir sulit diprediksi.
Menjadi Bagian dari Denyut Kampung
Pak Rohman tidak hanya bekerja di Surabaya Utara, ia juga hidup bersama warganya. Ketika ada hajatan pernikahan di kampungnya, ia menjadi kurir yang membantu menyampaikan undangan dari satu rumah ke rumah lain. Ketika ada warga yang sakit dan perlu diantar ke puskesmas, ia sering menjadi penghubung antara keluarga dengan tetangga yang memiliki kendaraan.
Kehadirannya di gang-gang kecil menjadi semacam penanda bahwa hari sudah berganti. Anak-anak yang semula berlarian di depan rumah kini sudah tumbuh dewasa dan bekerja di luar kota, tetapi mereka masih teringat sosok kurir bersepeda yang melewati rumah mereka setiap pagi. Cerita tentang Pak Rohman kadang muncul dalam obrolan keluarga sebagai bagian dari memori kampung halaman.
Bagi generasi muda Surabaya Utara, ia menjadi contoh sederhana tentang ketekunan. Di tengah gempuran aplikasi pesan instan dan kendaraan bermotor yang semakin terjangkau, ia tetap bertahan dengan cara lama yang ternyata masih sangat relevan. Ia menunjukkan bahwa pekerjaan sederhana bisa menjadi pengikat komunitas apabila dilakukan dengan tulus.
Pelajaran dari Seorang Pesepeda yang Setia
Kisah Pak Rohman memberikan gambaran tentang bagaimana satu orang bisa membentuk denyut sosial di lingkungannya. Ia bukan tokoh besar, tidak memiliki nama yang muncul di media, tetapi ia menjadi penghubung banyak cerita. Setiap paket yang ia antarkan membawa lebih dari sekadar isi, ia juga membawa kehangatan di antara warga yang jarang bertemu secara langsung.
Konsistensi menjadi bekal utamanya. Puluhan tahun mengayuh di jalanan yang sama mengajarkan padanya tentang kesabaran dan ketelitian. Tidak ada terburu-buru yang ia perlukan, karena ketepatan waktu datang dari pemahaman mendalam terhadap medan dan pelanggan. Cara sederhana ini menjadi bekal yang jarang dimiliki pekerja instan di era digital.
Bagi siapa pun yang tinggal atau bekerja di Surabaya Utara, mengenal sosok seperti Pak Rohman adalah cara terbaik memahami kota ini. Surabaya bukan hanya berisi gedung dan jalanan utama, tetapi juga gang-gang kecil yang dihuni orang-orang yang saling menjaga. Mendukung para pekerja lokal seperti kurir bersepeda berarti menjaga wajah manusiawi kota yang sering terlupakan.
Pesan sederhana yang bisa dipetik dari Pak Rohman adalah tentang hadir secara konsisten di lingkungan sendiri. Menjadi tetangga yang bisa diandalkan, menghafal nama jalan kecil, dan berhenti sejenak untuk berbincang bukan hal yang mewah, melainkan kebutuhan yang semakin jarang dipenuhi di kota besar. Surabaya akan tetap terasa seperti kampung bila lebih banyak warganya memilih menjadi bagian dari denyut harian seperti yang dilakukan Pak Rohman setiap pagi di jalanan utara kota.