Cakue goreng renyah di Jalan Kertajaya: surga jajanan pagi Surabaya
Pagi di Surabaya punya aroma yang sulit dilupakan. Di sudut-sudut jalan, uap minyak panas bercampur wangi tepung yang baru matang, mengundang pejalan kaki untuk berhenti sejenak. Jalan Kertajaya, salah satu arteri utama di kawasan Pucang dan Dharmawangsa, menyimpan deretan pedagang kaki lima yang sudah melegenda. Di antara mereka, ada satu sajian yang selalu jadi rebutan: cakue goreng renyah.
Cakue sendiri bukan barang baru di telinga warga Tionghoa-Indonesia. Jajanan ini sudah hadir sejak era kolonial dan terus bertahan sebagai ikon kuliner murah meriah. Versi gorengnya yang garing di luar serta lembut di dalam membuat banyak orang ketagihan. Di Jalan Kertajaya, keunikan tersebut dipertahankan dengan resep keluarga yang diturunkan lintas generasi.
Menyusuri gang kecil di sisi timur jalan, kita akan menemukan tenda-tenda sederhana dengan panci besar yang hampir tak pernah kosong. Setiap pedagang punya ciri khas tersendiri, mulai dari bentuk cakue hingga racikan bumbu cocolan. Tulisan ini mengantar Anda mengenal dunia cakue goreng di sana, dari sejarah singkat hingga tips berburu.
Akar tradisi cakue di tanah Surabaya
Cakue, atau dalam dialek Hokkian sering disebut cakwe, pada dasarnya adalah adonan tepung terigu yang difermentasi lalu digoreng. Kedatangannya ke Nusantara bersamaan dengan migrasi pedagang Tionghoa ke pelabuhan-pelabuhan besar, termasuk Tanjung Perak. Surabaya menjadi salah satu titik persebaran paling subur karena aktivitas perdagangan lautnya yang ramai.
Seiring waktu, cakue bertransformasi dari makanan saruan menjadi jajanan rakyat. Harga yang terjangkau membuat siapa pun bisa menikmatinya, mulai dari buruh pelabuhan hingga pelajar. Di kawasan Jalan Kertajaya, tradisi ini masih terasa kental hingga sekarang, apalagi dengan hadirnya komunitas keturunan Tionghoa yang menjaga warisan kuliner keluarga.
Resep asli cakue cukup sederhana: tepung, air, ragi, dan sedikit garam. Rahasia tekstur renyah terletak pada pengulenan panjang dan fermentasi tepat. Banyak pedagang di Kertajaya mengklaim masih menggunakan teknik tradisional tanpa pengawet, sehingga rasanya lebih autentik dibanding versi massal.
Deretan pedagang legendaris yang wajib dicoba
Salah satu nama yang paling sering dibicarakan adalah Pak Yanto, yang sudah berjualan sejak 1980-an. Warungnya di dekat persimpangan Kertajaya-Pucang selalu ramai pembeli sejak pukul lima pagi. Cakue buatannya berukuran lebih panjang dengan lapisan luar yang super garing, cocok disantap bersama kopi atau teh hangat.
Tidak jauh dari situ, Mbak Lina terkenal dengan cakue mini isi tahu. Variannya yang sedikit lebih modern ini menarik perhatian anak muda dan pekerja kantoran. Di sisi lain jalan, Pak Gunawan mempertahankan resep klasik dengan bentuk cakue besar yang dibelah dua sebelum digoreng, memberikan sensasi renyah yang berbeda.
Deretan pedagang ini membentuk ekosistem kuliner yang saling melengkapi. Ada yang fokus pada cakue polos, menambahkan topping abon atau keju, dan menyajikan camilan pendamping seperti tahu isi atau pisang goreng. Pelanggan bisa berpindah dari satu tenda ke tenda lain dalam hitungan langkah.
Proses memasak yang menentukan kualitas
Membuat cakue goreng renyah bukan perkara menggoreng adonan begitu saja. Pedagang di Jalan Kertajaya biasanya bangun subuh untuk menyiapkan adonan dari nol. Pengulenan dilakukan secara manual selama kurang lebih tiga puluh menit hingga adonan elastis dan tidak mudah putus saat ditarik.
Setelah diistirahatkan, adonan dipotong memanjang dan dijepit dua bilah menjadi satu. Inilah ciri khas visual cakue yang langsung dikenali. Adonan yang sudah dibentuk lalu dibiarkan mengembang sebentar sebelum masuk ke minyak panas bersuhu sekitar 170 derajat Celsius. Proses penggorengan hanya memakan waktu dua hingga tiga menit, tergantung ketebalan.
Kunci terakhir ada pada tahap penirisan. Pedagang berpengalaman tahu cakue harus diletakkan di rak anyaman bambu, bukan ditumpuk di wadah tertutup, agar uap panas keluar sempurna dan tekstur tetap renyah. Sebagai portal yang banyak membahas kuliner kota, profil kami juga sempat mengangkat kisah seorang pedagang senior yang berbagi tips menjaga kerenyahan cakue sepanjang hari.
Paduan rasa yang bikin ketagihan
Cakue goreng renyah di Jalan Kertajaya punya karakter rasa yang khas. Bagian luarnya memberikan sensasi garing dengan sedikit aroma gosong yang harum, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan sedikit mengembang. Rasa dasarnya gurih dengan wangi ragi yang lembut, sehingga tidak membutuhkan banyak bumbu tambahan untuk menikmatinya.
Biasanya cakue disantap dengan saus sambal khas Surabaya yang pedas-manis, atau cukup dengan kecap asem manis yang dicampur irisan cabai rawit. Beberapa pelanggan memilih menikmatinya bersama bubur ayam atau nasi uduk sebagai menu sarapan lengkap. Kombinasi tekstur renyah dan kuah hangat menjadikan hidangan ini sangat cocok disantap di pagi yang cerah maupun sore yang mulai dingin.
Pencinta rasa lebih berani bisa mencoba cakue balut dengan bumbu serbaguna atau keju cheddar parut. Inovasi ini menunjukkan bahwa makanan tradisional pun bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Strategi berburu cakue di pagi dan malam hari
Waktu terbaik mendapatkan cakue goreng renyah adalah antara pukul setengah enam hingga delapan pagi, saat minyak masih segar dan adonan baru selesai difermentasi. Stok masih lengkap dan Anda bisa memilih langsung dari keranjang. Setelah lewat pukul sepuluh, biasanya tersisa cakue yang sudah dingin dan kurang renyah.
Jika Anda tipe yang lebih suka suasana santai, datanglah sekitar pukul empat sore saat gelombang pembeli siang sudah berakhir. Beberapa pedagang memang mempertahankan stand hingga malam untuk melayani pekerja yang pulang larut. Siapkan uang tunai dalam pecahan kecil karena sebagian besar pedagang belum menerima pembayaran digital.
Untuk pengalaman paling otentik, datanglah bersama warga lokal atau mintalah rekomendasi tetangga sekitar. Mereka biasanya tahu pedagang mana yang konsisten menjaga resep. Setelah puas berburu, sempatkan berjalan kaki menyusuri trotoar Kertajaya untuk menikmati arsitektur toko tua yang masih berdiri, menjadi penutup pagi sempurna di Surabaya.
Untuk merasakan sensasi cakue yang baru diangkat dari wajan, sempatkan mampir ke Jalan Kertajaya akhir pekan ini sebelum stok pagi habis.