Skateboarder Surabaya Menghidupkan Kembali Jalan Tunjungan
Di sore hari yang mulai meredup, papan-papan seluncur bergerak cepat di atas trotoar Jalan Tunjungan. Bunyi roda kecil yang memantul dari aspal menjadi latar belakang yang semakin akrab di kawasan heritage tersebut. Para pegiat skateboard Surabaya berkumpul untuk berlatih sekaligus menandai ruang publik sebagai milik bersama.
Komunitas yang menyebut praktik ini sebagai "latihan jalanan" tumbuh dari kebiasaan nongkrong di sudut Jalan Tunjungan. Kawasan heritage itu kini dipandang sebagai ruang ekspresi, bukan sekadar jalur belanja. Kehadiran mereka menambah warna pada denyut kota pahlawan yang tidak pernah berhenti bergerak.
Asal-usul komunitas skateboard Surabaya
Komunitas ini berawal dari obrolan ringan di sebuah warung kopi dekat Tunjungan Plaza pada 2017. Beberapa sahabat yang gemar melaju di atas papan memutuskan membentuk kelompok latihan rutin. Mereka memberi nama diri "SK8SBY", akronim sederhana yang kemudian dikenal di kalangan penikmat olahraga roda.
Anggota pertama hanya berjumlah tujuh orang. Sebagian besar adalah pelajar SMA dan mahasiswa yang menghabiskan waktu luang setelah kelas. Tanpa pelatih resmi, mereka belajar bersama dari video tutorial dan saling mengoreksi teknik saat berlatih. Kebiasaan itu bertahan hingga kini, menjadikan proses belajar sebagai bagian dari ritual persaudaraan.
Seiring waktu, anggota bertambah dari berbagai latar belakang. Ada yang bekerja sebagai desainer grafis, pelayan kafe, hingga teknisi bengkel. Yang menyatukan mereka adalah ketertarikan pada budaya papan seluncur dan keinginan memiliki ruang aman berekspresi.
Mengapa memilih Jalan Tunjungan
Jalan Tunjungan menawarkan ruang terbuka yang jarang ditemukan di pusat kota lain. Trotoar lebar, permukaan yang relatif rata, serta struktur jalan yang lurus menjadi alasan praktis. Selain itu, kawasan ini mudah dijangkau dengan transportasi umum dari berbagai penjuru kota.
Nilai historis kawasan juga memberi nuansa berbeda. Latihan di antara gedung-gedung peninggalan kolonial membuat pengalaman berseluncur terasa lebih bermakna. Beberapa anggota mengaku lebih tenang berlatih di sini dibanding di lapangan biasa karena suasana kotanya yang khas.
Tidak jarang mereka berpindah ke gang-gang kecil sekitar Jalan Tunjungan saat mencari variasi rintangan. Anak tangga, rail tipis, dan bibir trotoar menjadi objek latihan alami yang mengasah kemampuan. Kondisi jalan tersebut kemudian membentuk gaya khas para pegiat lokal.
Latihan rutin dan trik favorit
Sesi latihan biasanya berlangsung tiga kali seminggu, Selasa, Kamis, dan Minggu sore. Setiap pertemuan dimulai dengan pemanasan untuk menghindari cedera. Setelah itu, anggota berlatih trik dasar seperti ollie, kickflip, dan heelflip yang menjadi fondasi gerakan lebih kompleks.
Trik yang sering dilatih di Jalan Tunjungan antara lain boardslide di atas rail pembatas trotoar dan manual di atas permukaan yang panjang. Beberapa anggota senior bahkan mencoba 50-50 grind pada struktur yang lebih menantang. Mereka saling memberikan masukan saat satu orang gagal mempertahankan keseimbangan.
Ketika menjelang malam, lampu jalan dan cahaya etalase toko menjadi penerangan tambahan. Suasana latihan berubah menjadi lebih intim dengan iringan lagu dari speaker portabel. Momen tersebut sering dianggap sebagai waktu paling menyenangkan oleh anggota komunitas.
Solidaritas antaranggota
Salah satu nilai yang dijaga oleh komunitas ini adalah gotong royong. Anggota yang lebih berpengalaman secara sukarela membimbing pemula selama dua hingga tiga bulan pertama. Pola semacam itu membuat anggota baru tidak merasa sungkan ketika pertama kali bergabung.
Tradisi lain adalah saling memperbaiki papan yang rusak. Suku cadang seperti bearing, baut, dan grip tape sering kali dibagi secara cuma-cuma kepada anggota yang membutuhkan. Solidaritas ini membuat biaya latihan tidak menjadi beban bagi mereka yang berasal dari keluarga sederhana.
Mereka juga memiliki kebiasaan berkumpul setelah latihan di warung sekitar Jalan Tunjungan. Makan bersama, bercanda, dan bertukar cerita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya komunitas. Bagi sebagian anggota, kumpul tersebut terasa seperti reuni kecil yang dinanti setiap pekannya.
Tantangan di ruang publik
Latihan di ruang publik tentu tidak lepas dari tantangan. Satpam gedung dan pengelola kawasan kadang menegur anggota ketika dianggap mengganggu ketertiban. Komunitas ini menanggapi hal itu dengan pendekatan dialogis, bukan konfrontasi. Mereka menjelaskan bahwa aktivitas mereka merupakan olahraga, bukan bentuk vandalisme.
Pejalan kaki dan pengunjung mal juga menjadi pertimbangan. Untuk menghormati pengguna jalan lain, para skateboarder berlatih di sisi trotoar yang tidak terlalu ramai. Mereka sepakat untuk tidak melakukan trik berbahaya ketika banyak orang berlalu lalang.
Perubahan tata kota juga menjadi perhatian. Beberapa titik latihan alternatif berkurang karena pembangunan baru. Komunitas pun mulai memikirkan cara lain menjaga keberlanjutan aktivitas tanpa mengurangi kenyamanan warga sekitar.
Respons warga sekitar
Pedagang kaki lima di sekitar Jalan Tunjungan memberikan respons beragam. Sebagian merasa terganggu karena papan seluncur kadang menyentuh meja dagangan. Sebagian lain justru senang karena suasana kawasan terasa lebih hidup dan menarik pengunjung.
Beberapa pemilik kafe sengaja menyediakan area duduk di depan usaha mereka supaya skateboarder dapat beristirahat. Praktik tersebut menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini diterima sebagai bagian dari denyut ekonomi lokal. Tidak jarang pengunjung kafe justru tertarik melihat atraksi latihan dari kejauhan.
Remaja sekitar kawasan juga mulai tertarik bergabung. Mereka menganggap para skateboarder sebagai teladan dalam hal keberanian dan disiplin latihan. Kehadiran komunitas ini secara tidak langsung ikut memperkenalkan olahraga papan seluncur kepada generasi yang lebih muda.
Harapan dan agenda komunitas
Ke depan, komunitas berharap bekerja sama dengan pemerintah kota untuk mendapatkan lokasi latihan yang lebih layak. Wacana pembangunan skatepark mini di salah satu ruang publik Surabaya menjadi rencana yang sedang didiskusikan. Jika terealisasi, lokasi itu akan menjadi rumah resmi komunitas.
Mereka juga ingin mengadakan acara bertajuk "Tunjungan Skate Day" yang terbuka untuk umum. Acara semacam ini pernah mereka lakukan secara kecil-kecilan dan mendapat tanggapan positif. Informasi mengenai kegiatan komunitas serupa kadang dirujuk dari sumber daring seperti portal komunitas roda papan yang menghimpun berbagai dokumentasi kegiatan di sejumlah kota.
Langkah konkret yang akan dilakukan adalah menghubungi Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya untuk mengajukan permohonan penggunaan salah satu plaza kota sebagai titik latihan resmi. Pertemuan awal diagendakan pada akhir bulan ini.
Komunitas Skateboard Surabaya telah menapaki perjalanan panjang di Jalan Tunjungan. Dari kebiasaan kecil di trotoar, mereka kini menjadi bagian dari denyut sosial kota. Penonton yang singgah memberi semangat untuk terus melestarikan ruang publik sebagai panggung budaya. Upaya mereka berikutnya adalah mengajukan proposal resmi kepada pemerintah kota pada akhir bulan ini agar kegiatan latihan memiliki payung hukum dan lokasi yang lebih layak.