Komunitas skateboard Taman Bungkul dan rutinitas event mingguan
Sejak dipugar menjadi ruang publik modern di jantung Kota Surabaya, Taman Bungkul menarik beragam kalangan, mulai dari keluarga yang membawa anak hingga komunitas urban yang mencari ruang berekspresi. Di antara deretan pengunjung sore hingga malam, peseluncur papan luncur menjadi salah satu kelompok yang paling konsisten hadir. Papan-papan berwarna, suara roda memantul di aspal, dan aroma makanan kaki lima di sekelilingnya membentuk potret khas aktivitas anak muda Surabaya di taman kota ini.
Setiap pekan, para peseluncur ini berkumpul dalam acara rutin yang sudah menjadi agenda tetap. Formatnya cair, tidak formal, dan terbuka untuk siapa saja yang ingin mencoba, dari pemula hingga yang sudah mahir melakukan trik-trik sulit di area landai dan bordes taman. Dari sinilah muncul solidaritas komunitas yang sering kali tak terlihat dari luar, melainkan terbangun lewat interaksi sederhana di trotoar, ramp kecil, dan obrolan panjang selepas matahari terbenam.
Taman Bungkul sebagai ruang ketiga anak muda
Taman Bungkul bukan sekadar ruang hijau dengan deretan pohon rindang dan air mancur. Di mata peseluncur, taman ini adalah ruang ketiga setelah rumah dan sekolah atau tempat kerja, sebuah istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan ruang publik informal tempat orang-orang membangun identitas sosial mereka. Permukaan yang luas, jalur pedestrian yang lebar, dan pencahayaan kota yang memadai menjadikan taman ini relatif aman untuk berlatih dari sore hingga malam hari.
Sebelum menjadi titik berkumpul seperti sekarang, kawasan Taman Bungkul dulunya adalah area yang lebih sepi. Seiring revitalisasi yang dilakukan pemerintah kota pada awal 2010-an, taman ini perlahan dipenuhi aktivitas, termasuk olahraga papan luncur yang sebelumnya lebih sering dilakukan di jalan-jalan kota atau area parkir pusat perbelanjaan. Perpindahan lokasi ini bukan tanpa gesekan, karena ada kalanya pengguna taman lain merasa terganggu dengan aksi para peseluncur. Namun, komunitas justru semakin menegaskan bahwa mereka juga bagian dari pengguna ruang publik.
Karakter komunitas yang terbentuk sendiri
Komunitas skateboard di Taman Bungkul tidak memiliki struktur kepengurusan yang kaku. Tidak ada ketua tetap, tidak ada kartu anggota, dan tidak ada iuran bulanan yang wajib. Yang ada hanyalah rasa saling kenal yang dibangun lewat hadir rutin di lokasi yang sama. Seorang peseluncur senior biasanya menjadi referensi bagi yang lebih muda, memberi tips posisi kaki, cara jatuh yang aman, atau trik dasar seperti ollie dan kickflip.
Solidaritas semacam ini yang membuat komunitas tetap bertahan di tengah ketidakpastian fasilitas. Papan rusak ditambal bersama, helm dan pelindung saling dipinjamkan, dan ketika ada peseluncur baru datang penasaran, biasanya ada yang langsung menyapa serta menawarkan papan cadangan untuk latihan pertama. Suasana kekeluargaan ini membuat taman semakin ramai, terutama saat akhir pekan ketika peseluncur dari berbagai penjuru kota datang untuk berlatih bersama.
Format event mingguan yang konsisten
Event mingguan biasanya berlangsung setiap akhir pekan sore, dimulai sekitar pukul empat atau lima dan baru mereda ketika hujan turun atau tengah malam tiba. Tidak ada jadwal resmi yang dipasang di papan pengumuman; semuanya berjalan lewat grup obrolan dan media sosial. Pada hari H, para peserta mulai berkumpul dengan membawa tas berisi papan, sepatu, dan kadang speaker kecil untuk memutar musik.
Format acaranya sendiri cukup sederhana. Ada sesi latihan bebas, sesi berbagi trik, dan kadang malam api unggun kecil atau nongkrong bersama di warung sekitar taman setelah sesi selesai. Beberapa komunitas dari luar kota, seperti dari Sidoarjo atau Gresik, juga sering ikut gabung karena letak Taman Bungkul yang mudah diakses dari berbagai arah. Jenis kegiatan semacam ini mirip dengan acara rutin komunitas hobi lain di Surabaya, misalnya kopdar vespa yang juga mengandalkan solidaritas antaranggota.
Interaksi dengan pengunjung dan pedagang sekitar
Hubungan antara peseluncur dengan pedagang kaki lima di sekitar taman berlangsung cukup harmonis. Banyak peseluncur yang sengaja mampir membeli minuman atau camilan setelah latihan, dan sebagian pedagang bahkan menjadi semacam sponsor kecil yang menyediakan air mineral atau tempat istirahat bagi komunitas. Interaksi sederhana seperti ini membantu menciptakan ekosistem yang saling mendukung di ruang publik.
Peseluncur juga belajar menjaga etika bersama, seperti tidak melakukan trik di area yang terlalu dekat dengan jalur pejalan kaki, mengenakan pelindung saat berlatih, dan membersihkan area setelah selesai. Tanpa aturan tertulis yang tegas, norma-norma ini terbentuk secara perlahan lewat teguran antar-peseluncur yang lebih senior. Ketika pelanggaran tetap terjadi, biasanya komunitas lain yang turun tangan memberi nasihat, bukan pengelola taman.
Tantangan fasilitas dan arah pengembangan
Salah satu tantangan terbesar yang masih dirasakan komunitas adalah minimnya infrastruktur khusus untuk skateboard. Permukaan Taman Bungkul yang halus sebenarnya cocok untuk latihan dasar, tetapi kurang ideal untuk trik tingkat lanjut yang membutuhkan ramp, rail, atau quarter pipe. Sejumlah peseluncur berharap pemerintah kota atau pihak swasta bisa menyediakan area skateboard mini di salah satu sudut taman, sehingga tidak perlu lagi berebut ruang dengan pejalan kaki.
Hingga kini, komunitas tetap bertahan dengan cara mereka sendiri, berlatih di lahan seadanya, berbagi ilmu tanpa imbalan, dan merawat solidaritas lewat rutinitas mingguan. Taman Bungkul tetap menjadi rumah bersama, tempat siapa saja yang tertarik pada olahraga papan luncur bisa datang, berlatih, dan menemukan komunitasnya. Rutinitas mingguan ini menjadi pengingat bahwa ruang publik kota akan tetap hidup selama ada komunitas yang merawatnya, dan Taman Bungkul adalah bukti nyatanya setiap akhir pekan.