Cerita di Balik Masjid Cheng Hoo dan Arsitektur Tionghoa
Di tengah kawasan Jalan Gading, Surabaya, berdiri sebuah masjid dengan warna merah, hijau, dan kuning yang segera mencuri perhatian. Atapnya menyerupai pagoda, gerbangnya mengingatkan pada kelenteng, sementara fungsi utamanya tetap sebagai tempat ibadah umat Islam. Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya menjadi ruang perjumpaan antara sejarah Tionghoa, perkembangan Islam, dan karakter kota yang terbuka terhadap beragam budaya.
Bangunan ini tidak sekadar menarik untuk difoto. Di balik bentuknya terdapat kisah tentang Laksamana Cheng Ho, komunitas muslim Tionghoa, serta upaya merawat ingatan sejarah melalui arsitektur. Bagi warga dan pengunjung, masjid tersebut memperlihatkan bahwa identitas Surabaya dapat tumbuh dari banyak pengaruh tanpa kehilangan akar lokalnya.
Jejak Laksamana Cheng Ho Di Nusantara
Cheng Ho, atau Zheng He, merupakan laksamana muslim dari Tiongkok pada masa Dinasti Ming. Antara 1405 dan 1433, ia memimpin beberapa pelayaran besar ke kawasan Asia, termasuk kepulauan Nusantara. Catatan sejarah menyebut armadanya singgah di berbagai pelabuhan penting, meskipun rincian setiap persinggahan dan hubungan langsungnya dengan lokasi tertentu masih menjadi bahan kajian.
Nama Cheng Ho kemudian dikenang dalam berbagai tradisi masyarakat pesisir. Ia sering dipandang sebagai tokoh yang membawa pesan persahabatan, perdagangan, dan hubungan antarbudaya. Di Surabaya, namanya digunakan untuk menegaskan hubungan historis antara komunitas Tionghoa, dunia maritim, dan perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Berdirinya Masjid Muhammad Cheng Hoo
Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya dibangun atas gagasan komunitas muslim Tionghoa yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia atau PITI. Pembangunannya dimulai pada awal 2000-an dan masjid ini kemudian diresmikan pada 2002. Letaknya berada di lingkungan yang mudah dijangkau dari pusat kota, dekat kawasan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Sejak awal, masjid tersebut dirancang sebagai tempat ibadah sekaligus simbol persaudaraan. Kehadirannya menunjukkan bahwa identitas Tionghoa dan keislaman dapat hadir berdampingan dalam ruang publik. Kegiatan di dalamnya juga terbuka bagi masyarakat luas, sehingga pengunjung tidak harus berasal dari komunitas tertentu untuk merasakan suasana masjid.
Makna Di Balik Bentuk Pagoda
Ciri paling mudah dikenali adalah atap bertingkat yang menyerupai pagoda Tionghoa. Warna merah dan kuning memberi kesan kuat pada fasad, sedangkan unsur hijau dan kaligrafi Islam menegaskan fungsi religiusnya. Perpaduan tersebut bukan usaha untuk mengubah masjid menjadi bangunan tradisional Tiongkok, melainkan cara menghadirkan simbol budaya Tionghoa dalam bentuk arsitektur Islam.
Bentuk segi delapan pada bagian bangunan juga kerap dikaitkan dengan simbol keberuntungan dalam tradisi Tionghoa. Sejumlah penjelasan populer menghubungkan angka-angka pada rancangan masjid dengan unsur sejarah Islam, seperti jumlah Wali Songo dan arah kiblat. Makna itu sebaiknya dipahami sebagai tafsir simbolis yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai satu-satunya penjelasan akademis mengenai rancangan bangunan.
Pertemuan Ornamen Tionghoa Dan Islam
Di bagian dalam, pengunjung dapat melihat kaligrafi Arab, pola geometris, serta elemen dekoratif yang mengingatkan pada seni Tionghoa. Pintu dan jendela menggunakan bentuk yang tegas, sementara susunan ruangnya tetap mengikuti kebutuhan masjid, seperti area salat, tempat wudu, dan ruang kegiatan keagamaan.
Arsitektur masjid ini memperlihatkan proses akulturasi. Ornamen Tionghoa tidak berdiri sebagai hiasan yang terpisah dari nilai Islam, tetapi menjadi bahasa visual untuk menyampaikan sejarah komunitas yang membangunnya. Karena itu, Masjid Cheng Hoo sering dipahami sebagai contoh bahwa dakwah dan kebudayaan dapat berjalan melalui pendekatan yang ramah terhadap keragaman.
Ruang Silaturahmi Warga Surabaya
Masjid ini memiliki peran sosial yang sama pentingnya dengan daya tarik arsitekturnya. Ceramah, pengajian, peringatan hari besar Islam, dan berbagai kegiatan komunitas menjadikan kompleks masjid sebagai tempat bertemu. Pengunjung juga datang untuk mempelajari sejarah, mengenal budaya muslim Tionghoa, atau sekadar menikmati suasana kawasan yang tenang di tengah kota.
Letaknya membuat kunjungan ke masjid mudah dipadukan dengan kegiatan lain. Setelah melihat bangunan dan kawasan sekitarnya, wisatawan dapat menjelajahi pilihan kuliner malam Surabaya, terutama karena kota ini memiliki banyak sajian yang tetap hidup hingga larut. Perpaduan wisata sejarah, ruang ibadah, dan kuliner memperlihatkan pengalaman kota yang lebih lengkap daripada kunjungan singkat ke satu lokasi.
Cara Menikmati Kunjungan Dengan Beretika
Pengunjung sebaiknya mengenakan pakaian yang sopan dan menjaga ketenangan, khususnya ketika kegiatan salat sedang berlangsung. Mengambil foto diperbolehkan selama tidak mengganggu jamaah atau memasuki area tertentu tanpa izin. Jika ingin memahami detail sejarahnya, berbincanglah dengan pengurus atau pemandu secara santun karena informasi lokal sering kali memberikan konteks yang tidak terlihat dari bentuk bangunan.
Waktu berkunjung juga perlu diperhatikan. Pagi atau sore biasanya lebih nyaman untuk mengamati warna, ornamen, dan proporsi bangunan tanpa terik berlebihan. Datang di luar waktu ibadah utama memberi kesempatan lebih baik untuk menikmati suasana, membaca keterangan yang tersedia, dan menghargai masjid sebagai tempat ibadah yang tetap aktif.
Masjid Cheng Hoo Surabaya mengajarkan bahwa sejarah kota dapat dibaca melalui bangunan yang masih digunakan sehari-hari. Atap pagoda, kaligrafi, warna khas, dan kisah pelayaran Cheng Ho bertemu dengan kehidupan warga Surabaya yang dinamis. Di sinilah arsitektur Tionghoa menjadi jembatan untuk memahami akulturasi, bukan sekadar latar foto.
Saat berkunjung, luangkan waktu untuk mengamati detail fasad, mengenali fungsi setiap ruang, dan menghormati aktivitas jamaah; dengan begitu, perjalanan ke Masjid Cheng Hoo menjadi pengalaman budaya yang bermakna sekaligus tertib.